The Museum of Forbidden Feelings | 2016

Sejarah Emosi
Sebuah catatan tentang Museum of Forbidden Feelings

Enam puluh tujuh benda mengantarkan kita kepada enam puluh cerita. Sebagai eksplorasi lebih lanjut dari buku yang berjudul The Book of Forbidden Feelings, pameran The Museum of Forbidden Feelings ini merupakan kolaborasi antara seniman-penulis Lala Bohang bersama 67 orang rekan yang ia pilih untuk berbagi cerita-cerita personal yang selama ini terpendam.

Ketika seorang anak menemukan sebuah batu yang disimpan bersama surat yang tidak sempat dikirim milik mendiang ibunya, kita tidak hanya terpapar oleh cerita sang anak, namun juga cerita pribadi sang ibu. Ibunya Mayumi pernah berjanji, jika keinginannya terkabul, ia akan mengembalikan batu itu ke sebuah kuil di Jepang. Setelah sang ibu wafat, Mayumi menemukan batu tersebut bersama surat yang ditulis dalam Bahasa Jepang—tidak pernah mengetahui apakah keinginan ibunya menjadi kenyataan atau tidak.

“Perasaan adalah sebuah pengalaman mental atas keadaan tubuh yang timbul ketika otak menafsirkan berbagai emosi, keadaan fisikyang munculsebagai respon tubuh atas rangsangan eksternal.”
Antonio D’Amasio, Profesor Ilmu Syaraf Universitas California

Emosi timbul sebagai akibat dari rangsangan indra dankenangan yang dipicu oleh rangsangan eksternal, sementara perasaan muncul dari emosi yang kita alami di dalam tubuh. Dengan demikian, pameran The Museum of Forbidden Feelings ini mestimenengok sejarah emosi untuk mendekati pemahaman isinya. Benda-benda tertentu, kata-kata, gambar, suara, bau, dan apapun yang memprovokasi indra kita dapat memicutimbulnya emosi. Banyak faktor berbeda yang dapat dilacak yang menentukan jenis emosi kita.

Beberapa emosi ikut terbawa oleh proses adaptasi biologis dan terprovokasi oleh kondisi universal dengan berada di tubuh manusia, sementara emosi-emosi yang lain dipicu oleh kondisi budaya dan sejarah pribadi, seperti nilai-nilai sosial dan orangtua, dan interaksi antarmanusia lainnya yang tanpa kita sadari turut mempengaruhi reaksi dan persepsi kita.

Reaksi sekunder faktor-faktor tersebut adalah perasaan. Sebagai contoh, jika kita merasa ”takut” (emosi), reaksi sekundernya dapat berupa “kecemasan” atau perasaan “terancam”. Emosi memicu pikiran kita untuk bereaksi dan menghasilkan perasaan-perasaan ini. Perasaan adalah reaksi mental kita terhadap sensasi ketubuhan yang dipicu oleh emosi, sehingga sejatinya perasaandapat kita latih. Dengan adanya reaksi yang terjadi di dalam pikiran, perasaan kita sangat dipengaruhi oleh pemikiran, pola, dan persepsi yang terbentuk sepanjang hidup kita. Persepsi kebiasaan dapat membuat kita terperangkap dalam perasaan-perasaan tertentu yang sebetulnya tidak kita inginkan; kita menjadi tidak sadar bahwa sebenarnya perasaan-perasaan tersebut dapat dilatih dan diarahkan. Lebih lanjut lagi, perasaan dapat kita lacak, pahami, dan kita bisa berdamai dengannya dengan melihat kembali sejarah pribadi dan rentetan emosi yang ada.

Ketika seorang teman baik kita yang juga ilustrator, Emte, kembali ke rumah masa kecil dan menemukan sepedanya, ia berada dalam kesadaran penuh untuk menghadapi perasaan terlarang yang ia miliki dua dekade silam. Sepeda tersebut merupakan representasi perasaan campur aduknya semasa remaja, saat ia membantu ayahnya berjualan koran dan majalah sebelum masuk sekolah. Berangkat pukul tiga pagi, ia bersepeda sejauh 15—20 km untuk mengantarkan koran, dan selesai tepat pada waktunya untuk sekolah.

The Museum of Forbidden Feelings adalah tentang keberanian menghadapi perasaan yang sulit, proses sederhana untuk mengkonfrontasi sejarah emosi seseorang. Terkadang prosesnya bisa sesederhana dan menyenangkan seperti mengungkapkan hal-hal kecil yang pribadi. Seperti celana merah Bu Marda. Sebagai seorang kepala sekolah yang selalu tampil dalam balutan busana dan perilaku terjaga, Marda Hanniggarjati “menghadirkan” celana merah yang harus ia kenakan setiap tidur. Mengetahui rahasia kecil ini membuat saya ingin lebih mengakrabkan diri lagi dengannya, sambilmenyeruput secangkir cokelat panas dalam sebuah pesta piyama.

Mengutip pembukaan saya dalam buku The Book of Forbidden Feelings, “Kebebasan sejati datang ketika ketakutan dipahami dan diatasi. Pemahaman yang benar datang ketika kita memahami relasi antara baik dan buruk… … Kemanusiaan perlu dipahami dengan melihat ke dalam dan berkarib dengan diri kita sendiri.”

Tujuan dari proses artistik bukan lah untuk menciptakan objek akhir, tetapi untuk mencapai kebebasan—kebebasan untuk memahami, kebebasan untuk membangun diri sendiri, kebebasan untuk membangun persepsi, dan kebebasan untuk seutuhnya terhubung dengan kenyataan.

Saya harap proses mengumpulkan benda-benda untuk The Museum of Forbidden Feelingsdapat menjadi momen berkesan bagi keenampuluh tujuh orang yang terlibat dan agar dapat berdamai dengan masa lalu, sekaligus untuk membuat perubahan melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana.

21 September 2016

Mia Maria

_

The Museum of Forbidden Feelings
Qubicle Center
Jl. Senopati No. 79
28 September – 10 Oktober 2016

 

  • Share: