Pameran Ruang Tunggu | 2016

Kutunggu (T)jandamu…

Farid Rakun
untuk “Ruang Tunggu”

To make someone wait: the constant prerogative of all power…
― Roland Barthes, A Lover’s Discourse: Fragments

Teruntuk kalian yang biasa hadir di pembukaan-pembukaan pameran seni rupa, selamat datang di “Ruang Tunggu”, sajian satu malam oleh enam seniman Jakarta—Muhammad “Emte” Taufik, Lala Bohang, Reza “Azer” Mustar, Vera Lestafa, Ari Dina Kristiawan, dan Ardi Gunawan.

Seperti banyak karya seni, sajian ini adalah sebuah canda yang dibuat serius.

Saya ingat ketika pertama kali nongkrong dengan mereka tentang ide ini. Layaknya banyak seniman, mereka juga terdorong oleh hasrat berpameran. Keresahan datang ketika mereka menyadari fakta bahwa banyak pengunjung pameran hanya datang sekali. Sekali yang tak berarti, yaitu pada malam pembukaan yang merupakan saat terburuk untuk “mengalami” karya-karya yang terpajang karena banyaknya gangguan yang datang. Mulai dari prosesi pidato-pidato pembuka, sajian makanan-minuman, sampai hentakan musik dan kewajiban bersosialisasi. Hal-hal ini membuat karya-karya yang dipajang di galeri seringkali hanya menjadi alibi keriaan satu malam. Alih-alih menganggap fakta ini sebagai sebuah masalah yang harus mereka pecahkan, keenam seniman ini memilih untuk tertawa dan merayakan absurditas ini.

Enam seniman ini mengundang penonton tidak untuk menonton, tapi untuk menikmati satu malam istimewa. Tanpa alasan kesenian yang terpajang, malam ini adalah satu malam pembukaan tanpa pameran. Nikmatilah malam ini tanpa tedeng aling-aling.

Tapi tentu, lelucon ini bukan kelakar “satu malam berdiri”. Ia tak memberikan harapan palsu. Ia tak kelar dalam semalam.

Dalam sesi tongkrongan lain, pernah terlontar ide dari para seniman untuk tidak membuat karya sama sekali. Andai ini terjadi, sebuah tantangan menerpa diri mereka sendiri: akankah orang datang, ketika mereka hanya mengandalkan modal sosial berupa merk produk nama mereka masing-masing? Satu hal yang pasti, mereka sadar bahwa dengan berkumpul, mereka bisa melahirkan penggunaan dan pemaknaan lain dari sebuah ruang bernama galeri.

Kita tidak akan pernah tahu jawaban lengkap dari pertanyaan di atas. Keputusan akhir mereka berbeda. Mereka ingin menyulap ruang pamer Edwin’s Gallery menjadi sebuah ruang tunggu. Sebuah wadah untuk bertemu muka dengan para penggemar, pengunjung yang memang sudah punya ketertarikan pada mereka. Di sini, keresahan awal para seniman atas acara pembukaan yang biasanya membuat pengunjung lupa akan kehadiran karya seni mereka bagi lewat proses penerjemahan berbentuk imitasi. Tak ada yang dapat pengunjung nikmati selain sebuah acara yang menyerupai pembukaan pameran. Tak ada satu karya pun terpasang di dinding.

Pertanyaan mereka: akankah acara pembukaan dapat kita nikmati tanpa adanya karya? Kuatkah nilai sebuah acara pembukaan ketika tak ada apa pun yang perlu dibuka?

Bicara tentang nilai, lucu buat saya bahwa tawa ini tanpa ironi. Walau resah, para seniman ini tidak bercanda untuk mengolok. Mereka tidak ingin tertawa di atas penderitaan orang lain. Dengan tulus mereka masih berkarya, membuat benda. Cara penyebarannya saja yang mereka bikin beda. Mereka tetap bekerja, namun karya-karya mereka tidak datang segera. Tapi percayalah, kesenian sedang menuju ke tangan-tangan kalian yang sabar menanti.

Menunggu adalah sebuah kegiatan bermasalah, sebab tak punya nilai instan. Buat penduduk Jakarta, kota di mana pindah tempat itu sulit, menunggu adalah kepastian sehari-hari. Orang tua bilang, di sini kita belajar nilai kesabaran. Berkebalikan dengan waktu adalah uang, di Jakarta waktu adalah kunci. Hasilnya adalah tingkat kesabaran yang amat teruji. Waktu memang perkara sulit, walau saya tak yakin ada harganya. Tebakan saya, hanya sebagian kecil para pengunjung “Ruang Tunggu” yang budiman yang mampu, mau, dan punya waktu untuk membaca tulisan singkat 500 kata ini—walau hanya dengan kecepatan baca rata-rata bisa selesai dalam dua menit saja. Buat kalian yang ternyata telah membaca sejauh ini, saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Kalian membuat pekerjaan saya tidak percuma.

Setelah tidak lupa meninggalkan nomor ponsel kalian di meja resepsi sebelum malam ini habis, kalian telah dengan sabar menantikan sebuah pesan singkat yang meminta alamat. Para seniman pun mengirim karya mereka. Proses ini telah melapangkan ”Ruang Tunggu” sampai ke ruang digital ponsel kalian masing-masing. Kalau kalian izinkan, jangkauan ini bahkan bisa sampai ke ruang tidur atau ruang tamu. Lucu bukan, “Ruang Tunggu” di ruang tamu?

Sekarang jelas, hanya kalian penontonlah yang dapat menjadikan sajian ini lebih dari sekadar kenakalan remaja. Seizin kalian, proses ini bisa menjadi satu lagi langkah yang bisa menertawakan kungkungan komersial dan institusional sebuah galeri. “Ruang Tunggu” bisa jadi satu lagi tawaran konsep kesenimanan yang tak perlu cepat lekang termakan zaman.

Setelah jelas bahwa sajian ini amat memerlukan pesetujuan, ketika keberhasilan “Ruang Tunggu” ada di tangan kalian, bolehkah pihak-pihak yang kami ajak kerjasama memperlakukan Anda semua sebagai data berharga?

Arnhem, 23 Mei 2016

_

Pameran Ruang Tunggu
Kamis, 2 Juni 2016
Pukul 19.00
di Edwin’s Gallery
Jl. Kemang Raya No. 21 Kemang

ruangtunggu.tumblr.com

Lala Bohang

Academy of Relationship

Medium: Cetak digital di atas kertas

Deskripsi 

Coret yang tidak perlu:

Kebaya mempelai wanita dan aksesori untuk upacara pernikahan Rp 6,000,000. Pakaian mempelai pria untuk upacara pernikahan Rp 4,000,000. Gaun mempelai wanita dan aksesori untuk resepsi Rp 30,000,000. Jas mempelai pria untuk resepsi 6,000,000. Seragam untuk keluarga inti Rp 5,000,000. Kain seragam untuk keluarga besar Rp 8,000,000.Kain seragam untuk sahabat kedua mempelai Rp 5,000,000. Kain seragam untuk sahabat orangtua mempelai Rp 5,000,000. Kartu undangan Rp 10,000,000. Photo booth Rp 15,000,000. Sewa gedung Rp 24,000,000. Pelaksanaan upacara pernikahan Rp 3,000,000. Surat/Legalitas Rp 1,000,000. Acara Rp 9,000,000. Makanan Rp 50,000,000. Band Rp 20,000,000. Kue pengantin Rp 12,000,000. Dekorasi pelaminan Rp 15,000,000. Dekorasi kamar pengantin Rp 9,000,000. Foto pre-wedding dan resepsi pernikahan Rp 30,000,000. Dokumentasi video resepsi Rp 15,000,000. Pawang hujan Rp 5,000,000. Mobil pengantin Rp 9,000,000. Cincin pengantin Rp 8,000,000.

_

“Academy of Realationship merupakan usaha menggeser kesan cengeng dan romantis semata dari relasi antar manusia ke ranah yang lebih rasional lewat metode edukasi dan mencari rumusan yang sesuai bagi karakter manusia yang berbeda-beda. Karena di era serba instan seperti sekarang ini ramalan bintang dan kecocokan berdasarkan shio atau golongan darah sudah basi.” (Lala Bohang)

  • Share: